Minggu, 08 November 2015

Melatih Kemandirian Anak

Kiat melatih kemandirian anak, silahkan simak di tautan berikut ini :
http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&jd=Melatih+Kemandirian+Anak&dn=20070928140357

Guru BK Berjiwa Wirausaha versi SURYA

Dimuat di harian Surya edisi 3 Nopember 2015.
Kliping koran Surya

Senin, 02 November 2015

Guru Bk yang Berjiwa Wirausaha

Terjemahan bebas dari judul tulisan ini adalah menjadi konselor yang memiliki jiwa kewirausahaan. Ternyata menurut Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, S.Psi., M.Si., Psikolog, dosen fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya, makna jiwa kewirausahaan atau entrepreneurial bukan melulu tentang bisnis, jual beli, dagang, ataupun wiraswasta tetapi konselor yang entrepreneurial adalah konselor yang memiliki pola pikir dan perilaku yang proaktif, inovatif dan mengambil risiko.
Mengapa konselor harus memiliki jiwa entrepreneurial? Karena konselor adalah role model, sebagai seorang pendidik dan bisa menentukan daya saing sekolah. Perilaku yang proaktif adalah konselor melihat permasalahan/peluang di sekolahnya dan berinisiatif untuk melakukan perubahan sebelum permasalahan tersebut semakin membesar atau peluang tersebut hilang/diambil pihak lain. Konselor sudah antisipatif dari awal.
Kendala dalam mengaplikasikan perilaku proaktif ini adalah kurang berorientasi pada konseli dan orang tua, sudah “nyaman” dengan posisinya sekarang, kurang mengikuti perkembangan “makro” pendidikan nasional dan global serta merasa bahwa itu adalah tanggung jawab kepala sekolah/sense of belonging rendah.
Perilaku yang inovatif mempunyai maksud bahwa konselor yang melihat permasalahan/peluang di sekolahnya lalu memunculkan ide kreatif dan mulai mengaplikasikan terhadap permasalahan/peluang tersebut. Kendala yang dihadapi  untuk bisa memunculkan ide kreatif ini diantaranya karena tidak terlatih “berfikir di luar kotak” dan tidak mengimplementasikan ide kreatif “ke dalam kotak”.
Ciri ketiga, mengambil risiko ini mempunyai arti bahwa konselor yang dalam upaya proaktif dan/atau inovatifnya bertindak dengan berani dalam situasi ketidakpastian sehingga ada kemungkinan untuk mengalami risiko kerugian atas tindakannya tersebut demi upayanya tadi. Kendala yang dihadapi untuk mewujudkan perilaku ini adalah tidak menganggap upaya pendidikan sebagai sesuatu yang bernilai tinggi (dibandingkan kemungkinan kerugian yang dapat dihadapi) serta kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial.
Yupiter Sulifan

Guru BK SMAN 1 Taman Sidoarjo
Saat mengikuti Seminar Guru Bk yang Berjiwa Wirausaha di Universitas Ciputra Surabaya

Entrepreneurial Counsellor

Saat presentasi hasil diskusi kelompok
Terjemahan bebas dari judul tulisan ini adalah menjadi konselor yang memiliki jiwa kewirausahaan. Ternyata menurut Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, S.Psi., M.Si., Psikolog, dosen fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya, makna jiwa kewirausahaan atau entrepreneurial bukan melulu tentang bisnis, jual beli, dagang, ataupun wiraswasta tetapi konselor yang entrepreneurial adalah konselor yang memiliki pola pikir dan perilaku yang proaktif, inovatif dan mengambil risiko.

Ini diutarakan dalam acara seminar Entrepreneurial Counsellor di ruang teater Universitas Ciputra Surabaya, 2 Nopember 2015. Diikuti peserta dari 60 guru BK se-Sidoarjo yang tergabung dalam Musyawah Guru Bimbingan Konseling.
Mewakili kelompok 3 yang menjuarai penanganan studi kasus Bullying menerima hadiah dari panitia

Foto bersama narasumber